CIMAHI — Musim reses kerap dipandang sebelah mata sebagai agenda seremonial belaka: datang, duduk, mendengarkan seadanya, lalu pulang. Namun, stigma tersebut dipatahkan oleh Anggota DPRD Kota Cimahi periode 2024–2029, Fitriyani Angelina S., S.H., saat menggelar Reses Masa Sidang II Tahun 2026 di Gedung Tim Publikasi, Kecamatan Cimahi Selatan, pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Dihadiri oleh sekitar 250 peserta, pertemuan yang berlangsung tepat sehari lalu ini berubah menjadi ruang dialog yang hidup dan tanpa jarak. Warga berbondong-bondong menyampaikan unek-unek sekaligus menitipkan gagasan konstruktif demi kemajuan lingkungan mereka.
"Reses bukan sekadar agenda formal kelembagaan. Ini adalah ruang penting bagi saya untuk bertemu warga, mendengar langsung persoalan di lingkungan, dan memastikan suara masyarakat menjadi bagian dari pembahasan kebijakan pembangunan Kota Cimahi," ujar Fitriyani kepada awak media.
Dari Infrastruktur hingga Denyut UMKM
Berbagai persoalan pelik mengemuka dalam sesi tanya jawab yang interaktif tersebut. Mulai dari carut-marut infrastruktur lingkungan, kualitas pelayanan dasar, strategi pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga dinamika sosial kemasyarakatan di tingkat akar rumput.
Bagi Fitriyani, terjun langsung ke lapangan memberikan perspektif autentik yang tidak bisa digantikan oleh tumpukan data atau laporan administratif di atas meja kantor. Seluruh catatan aspirasi tersebut dipastikan tidak akan menguap begitu saja, melainkan dikawal ketat untuk dibawa ke ruang sidang DPRD sebagai amunisi kebijakan daerah.
"Prinsipnya, kebijakan yang baik lahir dari mendengar. Dengan reses ini kita perkuat komunikasi dua arah antara wakil rakyat dan masyarakat, agar pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan," tegasnya.
Merajut Kedekatan Tanpa Sekat
Di sela-sela kegiatan, politisi muda ini menekankan pentingnya menjaga keintiman antara wakil rakyat dan konstituennya. Menurutnya, kehadiran fisik di tengah masyarakat adalah kunci utama untuk memahami denyut nadi persoalan secara utuh.
Ia pun mendorong warga Cimahi Selatan untuk aktif bersuara dan tidak perlu ragu menyampaikan kritik maupun inovasi. Kolaborasi dua arah ini dinilai krusial agar arah pembangunan Kota Cimahi tidak berjalan pincang atau sebelah pihak.
"Mari kita jaga Kota Cimahi bersama. Sampaikan ide dan keluhan, karena setiap suara warga sangat penting untuk kemajuan daerah kita," pungkasnya optimis.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Fitriyani membuktikan bahwa jembatan penghubung antara rakyat dan pembuat kebijakan harus dirawat dengan keterbukaan. Sebab, pembangunan yang tepat sasaran terkadang tidak lahir dari ruang rapat yang dingin, melainkan bermula dari keberanian mendengarkan suara sederhana dari warga yang ingin kotanya menjadi lebih baik.
(Red).




