BANDUNG — Kawasan dataran tinggi Punclut, Bandung, mendadak riuh oleh semangat kebersamaan ratusan anggota paguyuban. Di tengah udara sejuk khas pegunungan, Angkringan Teh Ita menjadi saksi bisu perhelatan akbar Jambore Akbar Cepot Motah Indonesia, Minggu (13/9/2026).
Ajang silaturahmi skala besar ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa. Di usianya yang menginjak sekitar tiga tahun dengan total anggota menembus angka 1.000 orang yang tersebar di 23 chapter, Ketua Umum Cepot Motah Indonesia, Tommy Subagja, menggunakan momentum ini untuk melakukan konsolidasi barisan secara besar-besaran.
Di hadapan para anggota dari berbagai wilayah hingga tingkat kecamatan—di mana 15 chapter di antaranya telah mengantongi Surat Keputusan (SK) resmi—Tommy menyoroti pentingnya tertib administrasi dan legalitas keanggotaan. Langkah ini diambil menyusul masih ditemukannya pihak-pihak luar yang mencatut nama besar Cepot Motah tanpa kejelasan identitas.
"Apabila ada anggota Cepot Motah yang tidak memiliki KTA atau nomor registrasi, maka perlu dipastikan kembali statusnya. Keanggotaan resmi memiliki nomor registrasi dan identitas yang dikeluarkan melalui mekanisme organisasi," tegas Tommy di sela-sela acara.
Lebih dari sekadar menertibkan atribut, paguyuban yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan ini turut mendeklarasikan sikap tegas terhadap ancaman sosial yang merusak masa depan bangsa. Tanpa kompromi, Tommy melayangkan penolakan keras terhadap segala bentuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang di lingkungan anggotanya.
"Kami menolak adanya penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Kita harus menjaga nama baik organisasi dan menjaga regenerasi anak bangsa ke depan," tandasnya dengan nada tegas.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan moral agar seluruh anggota mampu menjadi agen perubahan yang positif di tengah masyarakat, serta menjauhkan diri dari hal-hal destruktif yang dapat mencederai marwah organisasi.
Memasuki tahun 2026, Jambore Akbar ini diproyeksikan sebagai batu loncatan awal bagi ekspansi Cepot Motah Indonesia ke kancah yang lebih luas. Dengan fondasi kekeluargaan yang solid, paguyuban ini bertekad bertransformasi menjadi wadah nasional yang tidak hanya merangkul hobi dan silaturahmi, tetapi juga aktif bersinergi positif dengan pemerintah dan masyarakat luas.
"Ini merupakan salah satu awal perjuangan saya di tahun 2026. Ke depan Cepot Motah Indonesia akan terus berkembang dan menjadi wadah nasional yang lebih besar. Yang paling penting adalah menjaga persaudaraan, kebersamaan, dan marwah organisasi agar senantiasa memberikan manfaat nyata," pungkas Tommy menutup rangkaian acara.
(Puput,Wempi).



