Kembali ke Pelukan Ibunda Tercinta, Peristirahatan Terakhir Guruh Soekarnoputra Berdampingan dengan Pusara Fatmawati


JAKARTA — Kepergian untuk selama-lamanya dari seniman besar sekaligus politikus tanah air, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Putra bungsu Proklamator Kemerdekaan RI, Bung Karno, dan Ibu Negara Fatmawati ini telah resmi dimakamkan dalam sebuah prosesi penuh haru.

​Jenazah almarhum dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Ada pemandangan yang menyentuh hati dalam prosesi perpisahan tersebut; pusara Guruh Soekarnoputra ditempatkan berdampingan secara berdampingan dengan sang ibunda tercinta, Fatmawati. Seolah menjadi simbol keabadian cinta seorang anak bungsu yang kini kembali dalam dekapan hangat sang ibu.  

​Suasana haru menyelimuti area pemakaman. Sejumlah tokoh penting, keluarga besar, kerabat, hingga Presiden ke-5 RI sekaligus kakak kandung almarhum, Megawati Soekarnoputri, tampak hadir langsung memberikan penghormatan terakhir di tengah deru doa para pelayat yang memadati pemakaman.

​Sebagaimana diketahui, Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhirnya pada usia 73 tahun di RS MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta, setelah sempat menjalani perawatan medis. Kepergian almarhum bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Bung Karno, melainkan juga duka bagi dunia kebudayaan dan seni Indonesia. Semasa hidupnya, almarhum dikenal konsisten mendedikasikan diri untuk melestarikan seni, budaya, serta dunia panggung nusantara melalui karya-karya legendarisnya seperti Swara Mahardhika.  

​Kini, sang pujangga sekaligus penjaga api kebudayaan bangsa telah beristirahat dengan tenang. Jejak seni, semangat nasionalisme, dan kecintaannya pada tanah air akan terus hidup di hati masyarakat Indonesia.
​Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra. Karyamu abadi, kembalimu kini sehati dalam dekapan ibunda tercinta. 

(Red).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate