Menghidupkan Kembali Semangat "Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh": Kunci Persatuan Bangsa di Era Modern


 BANDUNG, 20 September 2026 — Di tengah arus modernisasi yang bergerak begitu cepat, Paguyuban Asgar Nusantara Ngahiji menyerukan pentingnya kembali pada akar budaya luhur Nusantara. Organisasi yang menghimpun putra-putri Garut dan berbagai daerah ini mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Jawa Barat, untuk mengamalkan kembali falsafah hidup Suku Sunda warisan Prabu Siliwangi: Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh.

​Ketua Umum Asgar Nusantara, H. Hendi Suhendi, S.H., menegaskan bahwa ketiga nilai sakral tersebut tidak boleh sekadar menjadi pajangan slogan budaya. Lebih dari itu, nilai-nilai ini harus menjadi kompas moral dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

​"Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang lupa cara bersaudara. Padahal, kekuatan sejati kita bukan pada harta atau jabatan, melainkan pada persatuan dan kepedulian terhadap sesama," ujar H. Hendi, Minggu (20/9/2026).

​Memaknai Falsafah Luhur Suku Sunda

​Bagi masyarakat Sunda, falsafah yang diwariskan leluhur sarat akan makna dan relevansi kuat untuk menghadapi tantangan zaman:

​Silih Asah: Semangat untuk saling mencerdaskan, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan kapasitas diri bersama-sama tanpa ada rasa saling merendahkan.

​Silih Asih: Landasan empati dan kasih sayang tulus antarsesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang maupun status sosial.

​Silih Asuh: Komitmen untuk saling menjaga, membimbing, dan melindungi—terutama dalam mengayomi kelompok masyarakat yang lebih lemah.

​Aksi Nyata Lewat Kepedulian Sosial

​Sebagai wujud konsistensi, Asgar Nusantara menterjemahkan falsafah tersebut melalui berbagai aksi nyata di tengah masyarakat. Mulai dari kerja bakti membersihkan lingkungan, merawat tempat ibadah, hingga memberikan uluran tangan kepada warga yang membutuhkan secara sukarela.

​Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Asgar Nusantara Ngahiji, Rd. Yadi Suryadi, menekankan bahwa persatuan bangsa bermula dari ketulusan hati setiap individu di tingkat akar rumput.

​Menolak Perpecahan: Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.

​Melestarikan Identitas: Menjadikan budaya gotong royong sebagai identitas dan perisai menghadapi tantangan global.

​Membangun Kesejahteraan: Berkolaborasi bersama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat untuk mewujudkan keadilan sosial.

​“Mari kita jadikan nilai-nilai luhur itu nyata. Bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan melalui perbuatan. Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh untuk Nusantara yang lebih baik,” pungkas Rd. Yadi.

(Puput,Wempi).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate